LONDON– Kalangan tradisionalis di Gereja Inggris bisa saja menyeberang ke provinsi-provinsi Anglikan lainnya jika seorang pastor yang mengakui kelainan homoseksualitasnya secara terbuka diangkat sebagai Uskup Southwark yang baru.
Para pemimpin konservatif Anglikan memperingatkan bahwa para jemaat yang tidak senang dengan penahbisan Dr. Jeffrey John, nama sang pastor gay, akan bersiap meninggalkan keuskupan London dan mencari "episkopal alternatif lainnya".
Hal ini bisa berarti mereka akan dipimpin oleh kepastoran ortodoks lainnya di Inggris, atau bahkan dari Afrika atau Amerika Selatan, seperti yang terjadi di AS, memicu perseteruan hukum terkait kepemilikan bangunan gereja mereka.
Mereka yakin Dr. John, yang saat ini menjabat sebagai Dekan St. Albans tidak seharusnya ditunjuk sebagai uskup karena ia memiliki rekanan sipil dan sebelumnya pernah mengaku terlibat aktif dalam hubungan homoseksual, yang mereka yakini berseberangan dengan ajaran kitab suci. Ia adalah seorang tokoh pemecah belah di dalam gereja karena tujuh tahun lalu pernah diangkat sebagai Uksup Reading, namun ia kemudian dipaksa mengudurkan diri menyusul protes massa.
Selain itu, seharusnya ada "penangguhan" dalam Komuni Anglikan mengenai penahbisan pemuka agama yang secara terbuka mengakui homoseksualitasnya. Para pemuka juga seharusnya membatasi diri agar tidak kelewat batas, dan mematuhi ketetapan-ketetapan yang lebih tradisional.
Romo Paul Dawson, seorang juru bicara kelompok evangelis konservatif, mengatakan, "Jika Jeffrey John akan diangkat, (ada beberapa) yang akan mencari alternatif lain."
"Akan ada sejumlah jemaat yang akan lebih suka mencari pilihan alternatif, khususnya di Inggris," tuturnya.
Dr. Chris Sudgen, kepala kelompok ortodoks Anglican Mainstream, mengatakan kepada program Today yang disiarkan BBC Radio 4: "Jika hal ini dilanjutkan, maka akan ada sejumlah pastor dan jemaat di keuskupan Southwark yang tidak akan mampu mengambil sumpah ketaatan kanonik terhadap para uskup, dan mereka akan mencari pandangan episkopal dari tempat lain. Hal itu sudah amat jelas."
"Dia adalah seorang homo yang berpasangan, padahal Gereja Inggris tidak mengakui bahwa hubungan semacam itu setara dengan pernikahan."
"Yang kedua, Dr. John, menurut pengakuannya sendiri, terlibat aktif dalam hubungan gay beberapa tahun lalu. Tapi, sekarang ia mengaku menjalankan praktik selibat. Biarlah, orang bisa menilainya dari permukaan."
"Jika dianalogikan, misalnya saja ada seseorang yang dinominasikan sebagai pejabat tinggi, misalnya jabatan dalam kabinet. Tapi, ia kemudian terbukti terlibat dalam skandal memanipulasi pengeluaran anggaran bertahun-tahun lalu dan tidak pernah meminta maaf atau mengakui perbuatan itu salah."
"Itu melanggar hukum Gereja dalam hal pengajaran Kristiani. Praktik homoseksual tetap saja tidak sejalan dengan pengajaran dalam kitab suci," kata Sudgen.
"Apa yang akan terjadi adalah apa yang telah terjadi di Amerika. Mereka akan terus menjadi Anglikan dan akan mencari episkopal dari tempat lain, entah di negara ini atau di negara lain," tambahnya.
Seperti yang diberitakan harian Sunday Telegraph, Dr. John adalah kandidat terdepan pencalonan uskup baru Southwark, sebuah jabatan senior dalam Geraja Inggris.
Namanya masuk dalam daftar pertimbangan Crown Nominations Commission dan ada dua nama uang akan diserahkan kepada Perdana Menteri David Cameron, yang diyakini akan menyetujui pengangkatan uskup homoseksual.
Dr. Giles Fraser, penasihat kanonik dari Katedral Santo Paulus, membantah anggapan yang menyebutkan bahwa pengangkatan tersebut akan membelah Gereja Inggris. Lebih lanjut, ia mengklaim: "Dr. John akan menjadi seorang kandidat yang amat cakap."
Perselisihan tersebut muncul saat Gereja berseberangan dengan pemerintah terkait rencana mengizinkan pembacaan himne dan Alkitab dalam upacara pernikahan sesama jenis untuk pertama kalinya, begitu juga dengan debat penting mengenai pengenalan uskup perempuan pada akhir minggu ini di lokasi perkumpulan Sinode Umum di York.
Konflik terkait homoseksualitas dan pengangkatan pastor gay telah sejak lama mengancam memecah belah Komuni Anglikan. Para pengkritik mengatakan hal itu mungkin akan berdampak pada perpecahan seperti pada Gereja Episkopal AS. (dn/tg/bbc)