.

30 Januari 2009

Presiden Israel Diteriaki "Pembunuh" oleh PM Turki



Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan beranjak meninggalkan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (29/1), setelah menyebut Presiden Israel Shimon Peres sebagai "pembunuh." Sebutan itu dikumandangkan oleh Tayyip Erdogan sebagai bentuk keprihatinan terhadap sikap Shimon Peres yang mendukung operasi militer Israel di Gaza.

Peserta debat yang bertopik Gaza, seperti penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret, tersontak melihat Erdogan dan Shimon Peres terlibat debat sengit dengan nada tinggi dan penuh emosi. Dalam debat yang memanas itu, Peres tetap membela posisi Israel dalam serangan militer selama 23 hari terhadap militan Hamas.

Peres menerangkan, operasi militer Israel diberlakukan sebagai respons atas serangan roket Hamas selama 8 tahun yang diarahkan ke wilayah teritorial Israel. Saat menyampaikan pandangannya itu, Peres kerap kali melepas pandangannya ke Erdogan yang mengkritik pemblokadean Israel atas wilayah Gaza.

Erdogan menyebut pemblokadean itu sebagai penjara "terbuka" yang terisolasi dari belahan dunia lain. Erdogan menyampaikan keprihatinannya terhadap operasi militer Israel yang menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina, lebih dari separuh di antaranya adalah warga sipil.

"Kenapa Hamas menembakkan roket? Tak ada pemblokadean terhadap Hamas sebelumnya," kata Peres dengan nada suara penuh emosional. "Kenapa mereka (Hamas) memerangi kami, apa yang mereka inginkan? Tak pernah ada kelaparan sebelumnya di Gaza."

Debat ini melibatkan Israel dan Turki sebagai pusat perhatian mengingat peran penting Turki sebagai moderator perdamaian Israel dengan Suriah. Erdogan menyampaikan kekecewaannya dengan mengenang upayanya mengadakan pendekatan perdamaian dengan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebelum Israel melancarkan operasi militer di Gaza.

"Saya sedih mengetahui peserta forum bertepuk tangan terhadap ucapanmu (Peres)," kata Erdogan. "Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru." Emosi Erdogan memuncak saat seorang moderator panel memotong pernyataannya untuk menanggapi pembelaan Peres terhadap operasi militer Israel melawan Hamas.

Luapan kemarahan ini berlangsung menyusul diadakan debat selama 1 jam di forum yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia di Davos. Erdogan berupaya memojokkan Peres lewat sanggahannya saat debat akan berakhir dengan meminta moderator yang adalah kolumnis Washington Post, David Ignatius, memperkenankan menambah waktu baginya untuk berbicara.

"Saya masih ingat dengan anak-anak yang tewas di pantai-pantai," tegas Erdogan. Saat Erdogan diperintahkan menghentikan komentarnya, Erdogan dengan sikap gusar meninggalkan forum yang dihadiri panelis Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Liga Arab Amr Moussa.

"Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina," ujar Erdogan secara lantang kepada Peres. "Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina," tambahnya.

Saat moderator berupaya memotong pernyataan Erdogan dengan menjelaskan waktunya telah memasuki jam makan malam, Erdogan menyelanya dengan mengatakan: "Jangan interupsi saya. Kamu tidak mengizinkan saya untuk berbicara. Saya tidak akan ke Davos lagi," tegasnya.

Erdogan menekankan alasannya meninggalkan forum di Davos bukan karena perselisihannya dengan Peres. Erdogan menjelaskan tidak diberikan cukup waktu untuk menanggapi pernyataan Shimon Peres. Erdogan mengeluh karena Peres diberikan waktu 25 menit untuk menyampaikan komentar, sementara dirinya hanya diberi waktu 12 menit.

JIM

PKS Tidak Rela Digandeng Jadi Cawapres

Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, mengatakan, PKS tidak rela digandeng jadi calon wakil presiden dari partai lain, jika perolehan suara pada Pemilu legislatif tahun 2009 mencapai 20 persen.

"Jika perolehan suara PKS pada Pemilu legislatif mencapai 20 persen, maka PKS tidak rela digandeng menjadi calon wapres dari partai lain," katanya menanggapi pertanyaan wartawan mengenai tawaran PDIP terhadap dirinya menjadi salah satu Cawapres, sebelum ia mengikuti acara silaturahmi akbar PKS di Kendari, Kamis.

Nur Wahid mengatakan, pengusungan dirinya sebagai salah satu Cawapres PDIP sudah dinilai mendahului "takdir" karena Pemilu legislatif belum dilakukan, selain itu juga peta perpolitikan nasional saat ini belum terlalu jelas kekuatan partai karena baru saja berakhir pemilihan gubernur/wakil gubernur Jatim putaran kedua saat menjelang Pemilu 2009.

"Kalau melihat peta politik pada Pilkada Jatim yang baru usai pemilihan gubernur dan wakil gubernur putaran kedua, dukungan PKS terhadap pasangan Kar-Sa menang, sedangkan dukungan PDIP terhadap Ka-Ji kalah. Jadi proses politik itu masih dinamis," ujarnya.

Nur Wahid juga mengatakan, Majelis Dewan Syuro PKS telah menyebut delapan nama Capres, namun sampai saat ini belum memutuskan siapa Capres yang akan maju pada Pilpres 2009, tetapi nanti setelah Pemilu legislatif pada 9 April 2009 akan diumumkan.

"Oleh karena itu, saya belum bisa disebut Capres atau calon Wapres PKS atau dari partai lain karena belum ada keputusan dari Majelis Dewan Syuro PKS untuk menetapkan itu," ujarnya ketika menanggapi yel-yel dari kader PKS yang menyebutkan dirinya "Capres", pada acara silaturahmi akbar PKS itu.

Pada acara silaturahmi yang dihadiri ratusan kader, caleg dan tokoh agama dan tokoh masyarakat yang memenuhi Aula Swalayan Salsa Kendari itu, Nur Wahid juga minta kader-kader PKS agar menjaga citra partainya dengan motto "bersih, peduli dan profesional,"

"Kader-kader PKS harus mendapatkan `reward` dari rakyat, dan jangan lelah dan kapok untuk melanjutkan perjuangan guna membuka mimbar dakwah melalui pintu legislatif dan eksekutif, sehingga bisa berbuat banyak untuk mewujudkan komitmen kita terhadap kepentingan rakyat dan bangsa ini," ujarnya. [TMA, Ant]

27 Januari 2009

Pelajar NU Dukung Fatwa Haram Rokok

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mendukung fatwa haram rokok bagi anak-anak, pelajar dan remaja, yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Sumatera Barat baru-baru ini.

"Rokok jelas-jelas membawa kerusakan, terutama bagi remaja, dan sama sekali tidak ada manfaat dan kebaikan yang didapatkan dari perbuatan merokok," kata Ketua Umum Pengurus Pusat IPNU Idy Muzayyad di Jakarta, Selasa.

Bagi anak-anak dan remaja yang belum berpenghasilan, katanya, kebiasaan merokok akan membawa dampak pemborosan dan menambah beban orangtua.

Idy berharap fatwa tersebut tidak akan menjadi "macan kertas" . Oleh karena itu, umat Islam di segala bidang, khususnya di lingkungan dunia pendidikan, harus mendukung dan mengikutinya.

"Kepala sekolah dan para guru perlu segera menyambut baik fatwa ini dengan memberikan larangan dan anjuran tegas kepada pelajar untuk tidak merokok, baik di sekolah maupun di luar sekolah," katanya.

Selain itu, lanjutnya, diperlukan kesadaran masyarakat, khususnya kalangan remaja dan pelajar, untuk mematuhi fatwa tersebut demi kebaikan mereka sendiri sebagai generasi muda bangsa yang harus sehat dan berintegritas kuat.

Idy berharap 347 pengurus cabang IPNU di seluruh Indonesia turut membantu menyosialisasikan fatwa itu agar berjalan di masyarakat. [TMA, Ant]

Steven Krauss: Dari Pencak Silat Menuju Islam



Abdul Latif Abdullah, adalah seorang Amerika pemeluk agama Kristen Protestan sebelum memeluk Islam. Namanya yang sekarang adalah nama Islam yang ia pilih setelah mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 30 Juli 1999, sebelumnya ia bernama Steven Krauss. Ketertarikan Krauss pada Islam dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di sebuah universitas di New York City pada tahun 1998. Ketika itu, ia bukanlah seorang pemeluk Kristen yang taat. Menurutnya, agama Kristen Protestan yang ia peluk sudah tidak relevan lagi dengan jaman sekarang.

"Saya sukar menemukan apapun dalam agama itu yang bisa saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kekecewaan saya terhadap ajaran Kristen membuat saya menutup diri dengan hal-hal yang diklaim sebagai agama yang terorganisir, karena menurut asumsi saya semua agama semacam itu sama saja paling tidak dalam hal tidak aplikatif dan tidak bermanfaatnya agama-agama seperti itu. Oleh sebab itu, saya lebih berminat dengan apa yang diistilahkan sebagai spiritualitas tapi bukan agama," papar Abdul Latif mengisahkan masa lalunya.

Ia mengaku sulit menerima tentang konsep ketuhanan dan konsep tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam ajaran Kristen, yang menurutnya ganjil. Dalam filosofis Kristen, ungkap Abdul Latif, hubungan antara manusia dengan Tuhan lewat perantara yaitu Yesus, padahal Yesus manusia juga cuma memiliki kelebihan sebagai utusan Tuhan.

"Filosofis hubungan manusia dengan Tuhan yang sulit dan tidak jelas itu membuat saya mencari sesuatu yang bisa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan. Mengapa dalam Kristen saya tidak bisa berdoa langsung pada Tuhan? Mengapa setiap berdoa saya harus mengawali dan mengakhirinya dengan menyebut 'atas nama bapak, dan putera dan roh kudus'? Mengapa Tuhan yang Maha harus mengambil bentuk sebagai seorang laki-laki yaitu Yesus, mengapa Tuhan merasa perlu melakukan hal seperti itu?" ujar Abdul Latif.

"Itu cuma sebagian pertanyaan yang tidak mampu saya pecahkan. Saya menginginkan pendekatan yang jelas bersifat langsung dalam sebuah ajaran agama, yang benar-benar memberikan tuntunan pada kehidupan saya dan bukan cuma dogma yang tidak jelas alasannya," sambungnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Abdul Latif punya teman sekamar orang Yahudi yang mempelajari Pencak Silat, ilmu bela diri tradisional. Setiap pulang latihan pencak silat dari padepokan yang dipimpin oleh seorang asal Malaysia, ahabatnya itu selalu bercerita tentang keunikan dan kekayaan dimensi spiritual dalam pencak silat. Abdul Latif tertarik dengan cerita sahabatnya itu dan berniat untuk mengetahui pencak silat lebih dalam. Suatu pagi di hari Sabtu, tanggal 28 Februari 1998, ia pun ikut ke tempat latihan pencak silat dan bertemu dengan guru pencak silatnya bernama Sulaiman, seorang Muslim Malaysia. Saat itu, ia tak menyadari bahwa momen itulah yang akan mengantarnya mengenal agama Islam dan menjadi seorang Muslim.

Sejak itu, Abdul Latif banyak menghabiskan waktunya berlatih pencak silat dan belajar Islam dari Sulaiman, gurunya yang sering ia panggil Cikgu (panggilan untuk seorang guru). Ia dan teman sekamarnya yang orang Yahudi itu juga sering berkunjung ke rumah Sulaiman, untuk menggali lebih banyak ilmu pencak silat dan tentu saja tentang agama Islam.

"Orientasi saya terhadap Islam sangat kuat. Ketika saya mempelajarinya, saya seperti sedang menjalankannya. Karena saya belajar di rumah guru saya, hadir di tengah Muslim yang taat membuat saya selalu dikelilingi oleh suara, penglihatan dan praktek-praktek agama Islam. Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Ketika Anda berada dalam lingkungan Islam, Anda tidak bisa memisahkannya dari kehidupan sehari-hari."

"Tidak seperti ajaran Kristen yang memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari, Islam mengajarkan umatnya untuk mengintegrasikan ibadah pada Tuhan dengan semua perbuatan kita. Bersama guru saya, saya langsung merasakan dan mengalami kehidupan yang islami dan menyaksikan sendiri bagaimana Islam bisa membentuk cara hidup seseorang secara keseluruhan," papar Abdul Latif menceritakan pengalamannya pertama kali mengenal dan belajar Islam.

Sebagai orang yang ketika itu menjalani kehidupan yang liberal, Abdul Latif mengaku juga menemui banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ajaran Islam. Apalagi ketika itu ia antipati dengan segala hal yang bersifat dogmatis, tak peduli asalnya darimana. Seiring dengan perjalanan waktu dan pehamannya tentang Islam makin meningkat, Abdul Latif pelan-pelan melihat bahwa apa yang ia anggap sebagai dogma agama merupakan sebuah gaya hidup yang sebenarnya yang diajarkan Sang Pencipta untuk umatnya. Dan ia menemukannya dalam ajaran Islam.

Abdul Latif akhirnya memutuskan menjadi seorang Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat pada 30 Juli 1998, atau lima bulan setelah ia datang ke tempat latihan pencak silat dan belajar tentang Islam dengan guru pencak silatnya. Tapi sebelum mengambil keputusan itu, Abdul Latif benar-benar mengeksplorasi dirinya sendiri apakah ia serius untuk masuk Islam. Dua hal penting yang ia tegaskan dalam dirinya adalah pertanyaan tentang gaya hidup masyarakat Amerika dimana ia dibesarkan dulu yang mengukur kebahagiaan hanya berdasarkan pada apa yang kita punya dan apa yang mampu kita beli serta pertanyaan seputar agama apa yang ia inginkan berperan dalam kehidupannya.

Ketika belajar dan akhirnya memeluk Islam, Abdul Latif menyadari betapa menyejukannya cara hidup yang diajarkan Islam. Islam mengajarkan bahwa semua yang kita lakukan harus bertujuan untuk beribadah pada Allah. Islam bukan agama yang bisa dirasionalisasikan seperti agama Kristen dan Yudaisme. Islam memberikan jalan dan petunjuk yang jelas bagi penganutnya untuk diikuti berupa al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. (ln/iol)

NU Anggap Fatwa Haram Rokok dan Golput Kelewatan

JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) tidak sependapat dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok bagi orang-orang dengan kriteria tertentu. PB NU berketetapan merokok hanya diberi fatwa makruh (dianjurkan untuk dihindari).

''Kalau di NU, dari dulu sampai sekarang, (merokok) itu hukumnya makruh, tidak sampai haram,'' ujar Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi setelah mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka Rapimnas Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa di Taman Mini Indonesia Indah kemarin (26/1).

Menurut Hasyim, NU menganggap terdapat relativitas dampak rokok terhadap kesehatan sehingga tidak bisa langsung dinyatakan haram seperti minuman keras atau daging babi. ''Bahayanya (rokok) itu relatif, tidak signifikan seperti minuman keras. Orang yang merokok juga punya relativitas. Ada yang kalau merokok, pikirannya jadi terang. Tapi kalau orang sakit TBC yang merokok, bisa langsung game,'' ujarnya.

Karena tidak hadir dalam pertemuan Komisi Fatwa MUI di Padang, Hasyim tidak mengetahui dasar pemikiran putusan fatwa tersebut. Namun, dia melihat tidak ada pembatasan usia bagi remaja atau anak-anak untuk merokok. ''Fatwa MUI ini kan tidak ada (batasan) tahunnya, sampai umur berapa disebut anak-anak atau remaja. Itu kan repot,'' katanya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Kesejahteraan Rakyat Azyumardi Azra menilai tidak ada hal baru dalam fatwa MUI. Mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah itu menilai fatwa merokok tersebut kompromistis karena tidak berlaku untuk semua kalangan.

Bahwa merokok harus pada tempatnya, tidak boleh di depan publik, tidak boleh anak-anak merokok, tidak boleh wanita hamil merokok, menurut dia, itu sudah ada aturannya. Bahkan, Pemprov DKI Jakarta sudah mengatur pakai perda walau tidak berjalan.

Fatwa Golput

Hasyim juga merespons fatwa MUI yang mengharamkan golongan putih (golput), yakni masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu. Menurut Hasyim, PBNU justru membebaskan penggunaan hak pilih umat Islam. Menurut dia, setiap warga negara berhak menentukan pilihan tanpa harus dibatasi fatwa. "Golongan putih itu sendiri-sendiri seleranya. Kami nggak bisa nyalahin," katanya.

Meskipun menolak fatwa haram golput, Hasyim menegaskan, NU juga tidak sepakat bila ada anjuran tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu mendatang. Sebelumnya, Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa, Abdurrahman Wahid, menyerukan golongan putih dalam pemilu mendatang.

Hasyim menilai ajakan untuk tidak menggunakan hak pilih adalah tindakan destruktif. "Kalau sudah gerakan meniadakan proses pemilu, saya kira itu tidak benar. Tapi juga ndak usah ditarik ke haram, itu sudah tidak benar," ujarnya.

Senada dengan Hasyim Muzadi, Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan, seperti rokok, soal tidak memilih dalam pemilihan umum, tidak bisa dibuat fatwa halal atau haram.

Ia mengatakan golput alias tidak ikut pemilihan umum, merupakan pilihan seseorang. Kalau merasa tidak cocok, wajar saja dia tidak memilih. "Begitu juga soal rokok, menurut saya tidak bisa difatwakan halal atau haram sebab akan ada konsekuensi hukumnya," katanya.

Penolakan fatwa MUI juga datang dari daerahm salah satunya dating dari Kudus, kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi salah satu sentra produksi rokok di Indonesia. "Kami menolak rokok difatwakan haram oleh MUI. Masalahnya sangat komplek, sehingga dampaknya akan sangat mengkhawatirkan" ujar Ketua DPRD Kudus, Asyrofi Masitho kemarin.

Saat ini di Kudus terdapat 15 pabrik rokok yang tergabung dalam, dengan 95 ribu karyawan dan FPRK, serta tak kurang dari 120 ribu orang pekerja. "Sehingga, bila fatwa itu dikelaurkan, maka tidak saja membuat industri rokok gulung tikar tetapi juga berdampak pada nasib karyawan," tambahnya.

Pesimisme juga dating dari kalangan akademis yang selama ini mendukung gerakan antirokok. Peneliti Lembaga Demografi Universitas Indonesia Abdillah Ahsan menilai fatwa haram rokok dengan empat kriteria yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia hanya berdampak kecil terhadap pengurangan konsomsi rokok. "Kecuali ada larangan untuk lelaki dewasa, itu dampaknya besar," jelasnya. Lelaki perokok dewasa diperkirakannya berjumlah sekitar 80 persen dari total konsumsi. Selain itu orang bisa saja merokok lebih banyak di rumah daripada di tempat umum. Akibatnya konsumsi rokok tetap tinggi.

Adapun sasaran ibu hamil, lanjutnya, tidak signifikan karena perokok wanita dewasa saja hanya 4 persen. "Yang hamil lebih sedikit lagi." Begitu pula anak-anak. Anak-anak, karena tidak punya pendapatan, maka konsumsi rokoknya tidak mempengaruhi pendapatan industri rokok.

Namun, fatwa Majelis tersebut diakuinya bagus untuk mencegah anak mencoba merokok. "Bisa jadi landasan orang tua untuk melarang anaknya," tambahnya," Dengan catatan semuanya dipatuhi."

Ia melihat banyak fatwa yang dikeluarkan majelis dianggap sebelah mata oleh masyarakat seperti bunga bank, menonton acara hiburan. Akibatnya fatwa jadi sia-sia. Namun, paling tidak diakuinya Majelis sudah peduli pada kesehatan masyarakat.(noe/el)

Warga Jabar Sumbang Palestina Satu Miliar

Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jawa Barat berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar Rp 1 miliar lebih melalui acara "Konser Amal dan Malam Ekspresi Palestina Memanggil" di Bandung, Senin (26/1) malam.

Ketua KNRP Jawa Barat, Muhammad Taufik Ridlo, mengatakan, sumbangan itu akan diberikan kepada warga Palestina secara langsung oleh relawan KNRP. Namun bentuknya tidak akan berupa uang tunai melainkan obat-obatan, tim medis ataupun material pembangunan fasilitas umum.

KNRP melakukan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat sehingga pemberangkatan sumbangan atau 15 orang tenaga medis telah berjalan lancar dan dipastikan tepat sasaran. "Secara nasional KNRP telah menerima sumbangan sebesar Rp 12 miliar dan Rp 5 miliar telah disalurkan beberapa waktu lalu, jumlah ini belum ditambahkan dengan hasil pengumpulan dana malam ini," ujar Taufik

Taufik menjelaskan untuk bantuan berupa makanan, para relawan harus melalui Israel sedangkan obat-obatan dan perangkat lainnya menggunakan jalur Mesir.

Sementara itu Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, mengimbau warga Jabar untuk memberikan doa dan dukungannya secara materi kepada warga Palestina. Di tempat yang sama, Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, menyatakan aksi solidaritas ini merupakan cerminan warga Bandung yang siap dengan dunia unilateral. "Inilah semangat warga Bandung yang harus diapresiasi oleh semua pihak," ujarnya.

Dalam acara ini beberapa perusahaan menyumbangkan sejumlah dana yang nilainya tinggi. Di antaranya Posko Keadilan Peduli Umat (PKPU) Rp 20 juta, Dompet Peduli Umat Daruut Tauhid Rp 25 juta, Rabbani Rp 100 juta, Unicore Tiansi Rp 200 juta, dan Ahmad Heryawan dan kawan-kawan Rp 350 juta.(IAN/ANTARA)

21 Januari 2009

Tifatul: Panwaslu Harus Lebih Profesional

“Kalau Panwaslu mau menghormati hukum dengan menerima SP3 yang diterbitkan kepolisian secara legowo, maka PKS akan memberi maaf kepada Panwaslu,” kata Tifatul

PK-Sejahtera Online: Jakarta, (21/1)- Rabu 21 Januari kepolisian mengeluarkan SP3 (Surat Penghentian Penyidikan Perkara) atas nama tersangka Tifatul Sembiring dan dua pengurus PKS lainnya. Artinya secara hukum PKS dinyatakan tidak bersalah dan kasusnya tidak bisa dilanjutkan.

Panwaslu membuat laporan pelangggaran pemilu ke polisi 7 Januari 2009. Setelah itu kepolisian menerbitkan surat panggilan tersangka kepada 3 pimpinan PKS yaitu Tifatul Sembiring, Tri Wisaksana dan M Agus Setiawan. Kamis, 15 Januari ketiga tersangka diperiksa di Polda Metro Jaya.

Berdasarkan fakta-fakta hukum diatas maka Presiden PKS mengucapkan syukur alhamdulillah jika polisi sudah menerbitkan SP3. “Saya dan seluruh kader PKS bersyukur kepada Allah karena PKS bebas dari tuduhan Panwaslu. Kedua memberikan apresiasi tinggi kepada kepolisian karena bertindak profesional dalam melakukan pemeriksaan,” papar Tifatul.

Ada usulan dari beberapa kolega dan pengamat hukum agar Tifatul mengadukan Panwaslu karena mencemarkan nama baik PKS. Namun Tifatul menyatakan langkah hukum ini akan diambil jika Panwaslu tetap ngotot ingin mempidanakan PKS.

“Kalau Panwaslu mau menghormati hukum dengan menerima SP3 yang diterbitkan kepolisian secara legowo, maka PKS akan memberi maaf kepada Panwaslu,” kata Tifatul. Menurut Tifatul tidak semua masalah harus diselesaikan melalui proses hukum. “Panwaslu ini kan baru bekerja, kita juga perlu apresiasi kerja mereka. Hanya saja dalam bekerja Panwaslu harus lebih profesional dan harus bersih dari tekanan-tekanan politik. Proses pemilu ini masih cukup panjang, jika menggugat balik Panwaslu, PKS khawatir kasus gugatan hukum ini akan mengganggu kinerja Panwaslu yang sedang mempersiapkan tahapan pemilu,” ujar Tifatul.

Hidayat Imbau PKS Maafkan Panwaslu

JAKARTA, RABU — Kabar akan dihentikannya penyidikan kasus dugaan pelanggaran kampanye PKS, disambut positif anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid. Ia mengatakan, kasus yang sudah menyeret Presiden PKS Tifatul Sembiring sebagai tersangka itu memang selayaknya di-SP3. Keterangan ahli bahwa tidak ada unsur pelanggaran, menurutnya, menjadi landasan kuat untuk tak meneruskan kasus tersebut.

Maka, ia mengimbau PKS untuk memaafkan Panwaslu DKI Jakarta. "Ahli sudah mengatakan tidak ada unsur melanggar kampanye. PKS seharusnya memaafkan Panwaslu dan tidak perlu menuntut balik agar Panwaslu bekerja secara profesional untuk menghadirkan pemilu yang berkualitas," kata Hidayat, Rabu (21/1) di Gedung DPR, Jakarta.

Sementara itu, Ketua Fraksi PKS Mahfudz Sidik mengatakan, dihentikannya kasus ini menjadi hal yang harus menjadi perhatian Panwaslu. Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, menurutnya, Panwaslu harus menguasai aturan hukum dan tidak secara sembarangan menetapkan tuduhan.

"Ini memalukan bagi Panwaslu yang semestinya memahami aturan hukum. Semoga tidak ada motif lain dibalik tindakan panwaslu dan Bawaslu," demikian Mahfudz.

Sehari sebelumnya, Selasa (20/1), Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini menyatakan, pihaknya masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian tentang kepastian kelanjutan kasus tersebut. Penetapan Tifatul sebagai tersangka, menurut Hidayat Sardini, seharusnya sudah menunjukkan adanya bukti awal yang kuat terjadinya pelanggaran.

"Penetapan tersangka itu kan, sudah menjadi bukti awal yang cukup. Tinggal penyidik yang bertugas membuktikan. Kami masih menunggu SP3 Kepolisian bagaimana bunyinya. Kami tidak pada posisi memuaskan atau mengecewakan orang," ujar Hidayat Sardini seusai mengisi diskusi di Kantor DPP Golkar kemarin.(Inggried Dwi Wedhaswary)

15 Januari 2009

Ada Tekanan Terhadap PKS

63197_presiden_pks_tifatul_sembiring_memenuhi_panggilan_polda_metro_jaya_thumb_300_225[1]

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah, menyatakan pemanggilan Ketua Dewan Pengurus Wilayah DKI Jakarta PKS, Triwisaksana, tanpa izin Menteri Dalam Negeri menunjukkan adanya tekanan pada polisi. Triwisaksana hanya bisa dipanggil dengan izin menteri karena berstatus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Khusus Ibukota Jakarta.



"Karena ada tekanan, maka polisi tidak lihat lagi ada prosedur hukum yang harus dilewati," kata Fahri kepada VIVAnews, Kamis, 15 Januari 2009.



Bukan hanya polisi yang dilihat PKS mengalami tekanan. "Termasuk juga Panitia Pengawas Pemilu Jakarta, Komisi Nasional Perlindungan Anak dan Komisi Pemilihan Umum," kata Fahri. "Kasihan juga mereka, karena bisa jadi hanya menjalankan perintah orang lain."



Namun Fahri tak menyebutkan rinci siapa orang yang memerintahkan itu. "Itu orang-orang yang ingin menyudutkan PKS dan ingin menyudutkan isu Palestina," kata Wakil Ketua Fraksi PKS di parlemen itu.



Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta melaporkan PKS melanggar aturan kampanye Pemilu karena demonstrasi menentang aksi militer Israel ke Gaza pada 2 Januari 2009. Presiden PKS Tifatul Sembiring, Triwisaksana dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Jakarta Pusat PKS, M Agus, dilaporkan sebagai penanggung jawab aksi tersebut pada Polda Metro Jaya pada 7 Januari 2009.



Kurang dari seminggu, tanpa pernah memeriksa ketiga terlapor sebelumnya, polisi menyatakan ketiga pimpinan PKS itu sebagai tersangka. Mereka harus menghadap polisi pada Senin 12 Januari lalu namun batal. Lalu dilayangkan surat panggilan kedua untuk datang hari ini. Ternyata baru kemudian diketahui, salah satu tersangka yakni Triwisaksana hanya bisa diperiksa berdasarkan izin Menteri Dalam Negeri.(vivanews)

14 Januari 2009

Kampanye: 1 Blogger 1 Dollar

Israel telah menjadikan rakyat Palestina sebagai tempat pembantaian. Memang inilah sifat bangsa "kera" tersebut. Tidak tanggung-tanggung, semua yang menghalang-halangi aksi agresinya akan mendapatkan bom ataupun tembakan. Palestina menjadi negara yang teraniaya sejak puluhan tahun atas berdirinya bangsa yang tidak mempunyai tanah negara (Israel). Hingga harus menjajah bumi Palestina.


Ada aksi 1 man 1 dollar, untuk Palestina. Maka kita pun demikian! Meski berada di dunia maya, aksi keprihatinan dan memperhatikan nasib sesama manusia merupakan kewajiban kita bersama. Jika didunia maya mereka membuka rekening atau posko-posko donasi untuk rakyat Palestina. Maka kita pun sudah seharusnya seperti itu! Mari semua para Blogger, kita bersama membantu korban perang Palestina atas agresor Israel yang haus akan darah rakyat Palestina. Mari kita memberikan 1 dollar (atau lebih) dari pendapatan kita di internet. Kita jadikan sebagai aksi kita memberikan apa yang bisa kita berikan untuk umat manusia dibelahan dunia lainnya.


Kita kampanyekan bersama-sama "1 Blogger 1 Dollar" atau "Dari Blogger Untuk Palestina". Silahkan memberikan bantuannya di Suaranews.com posko "1 Blogger 1 Dollar" atau "Dari Blogger Untuk Palestina".